Tidak banyak yang tahu bila 10 Mei 2016 diperingati sebagai Hari Migrasi Burung Sedunia atau World Migratory Bird Day (WMBD). Dan di Sumatera Utara, Universitas Medan Area (UMA) adalah salah satu yang mewakili provinsi Sumatera Utara dari 17 Provinsi di Indonesia yang memperingati WMBD.
Untuk mengajak individu-individu yang memiliki kepedulian terhadap penyelamatan satwa, Khususnya burung Migran. Fakultas Biologi UMA bekerjasama dengan Pema dan Biopalas menggelar diskusi umum yang bertema “ Stop Ilegal Killing, Taking And Trade Of Migratory Bird”. Pada 16 Mei 2016 Di Convention Hall lantai III kampus I UMA.
Dekan fakultas Biologi Dr. Mufti Sudibyo, M.Si mengatakan penting menggelar acara ini terutama kepada generasi penerus yang masih berada di bangku sekolah, Agar para siswa tahu pelestarian burung ini penting. Siswa jadi mengetahui jenis burung dan kehidupannya seperti apa. Beliau menyampaikan hal tersebut sebelum membuka acara diskusi yang disaksikan puluhan mahasiswa dan siswa yang diundang dalam acara diskusi umum WMBD tersebut.
Dalam memperingati WMBD panitia menghadirkan narasumber Giyanto, S.si dan Hasri Abdilah, S.Si pengamat burung migran yang melintas di Medan yang ada di desa Bagan Percut, Kecamatan Percut Sei Tuan.
Hasri mengatakan mengapa penting melestarikan burung ini Menurutnya, tidak semua daerah beruntung memiliki keanekaragaman hayati burung migran seperti daerah percut, sehingga perlu menggiatkan partisipasi warga dalam menjaga kawasan tesebut.

Selain alasan tersebut alasan lain juga diungkapkan bahwa burung migran ini merupakan sumberdaya international yang harus dilestarikan. Untuk mengetahui burung-burung air ini migran sejauh mana, para aktivis melakukan pemberian cincin dan bendera khusus untuk menandai asal burung tersebut, Penandaan tersebut sudah disepakati di tingkat internasional, membutuhkan alat dan harus dilakukan oleh orang dengan sertifikasi khusus.

Burung Trinil Lumpur Asia (Limnodromus semipalmatus) yang sudah memiliki tagging bendera oranye-hitam, kode burung pantai migrasi yang singgah di Sumatera. Foto: Iwan Londo/ WCS
Menurut Hasri, ada sekitar 80 jenis burung Air yang bermigrasi di Indonesia, puncak burung-burung bermigrasi adalah antara bulan Agustus – November. Jarak yang mereka tempuh dapat mencapai puluhan ribu kilometer.
Mengapa Burung Bermigrasi?
Dari sudut pandang ekologis, migrasi burung adalah sebuah ritual tahunan yang menunjukkan kesimbangan fungsi ekologis di berbagai belahan dunia. Tidak kurang 50 miliar individu burung yang melakukan migrasi ini setiap tahunnya. Mereka melintas benua dengan jarak puluhan ribu kilometer untuk mencari makan atau untuk mendapatkan cuaca yang hangat untuk melanjutkan siklus perkembangbiakan mereka.
Pada bulan Agustus hingga Maret, belahan bumi utara mengalami musim dingin yang menyebabkan kelimpahan makanan burung-burung tersebut berkurang, akibatnya burung-burung yang hidup di Rusia timur laut, China, Alaska bermigrasi ke bumi belahan selatan untuk mencari udara yang lebih hangat dan mencari makanan. Jenis makanan dari kelompok burung-burung pantai adalah ikan, jenis-jenis kerang, kepiting dan cacing. Umumnya burung pantai mencari makan di sekitar daerah pesisir pantai, juga di daerah persawahan, pertambakan dan hutan bakau.
Untuk lebih mengenal jenis burung dan cara hidupnya fakultas Biologi UMA mengajak peserta diskusi untuk langsung mengamati burung migran yang berada di desa Bagan Percut, Kecamatan Percut Sei Tuan (17/05).