Melihat Hutan Mangrove Percut Sei Tuan

mahasiswa-biologi-uma-amati-burung-migran-237745-1

(taufik wal hidayat) SEMINARKAN: Para pembicara tampil pada diskusi umum “Stop Illegal Killing, Taking and Trade of Migratory Bird” di Kampus I UMA,Diskusi yang digelar mahasiswa Biologi UMA itu dilakukan sebelum mengamati burung migran di hutan mangrove kawasan Desa Tanjung Rejo, Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang.

 

Percut Sei Tuan,Mahasiswa Fakultas Biologi (FB) Universitas Medan Area (UMA) dipimpin Dekan, Dr Mufti Sudibyo MSi mengamati langsung burung migran di hutan mangrove kawasan Desa Tanjung Rejo, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang.

Mufti Sudibyo didampingi Wakil Dekan III FB Abdul Karim SSi, MSi, Kepala Humas UMA Ir Asmah Indrawati MP, Ketua Panitia Poppy RA Lumbantobing, Sekretaris Adetia dan Bendahara Vikra Amanda mengatakan, kegiatan pengamatan burung migrah di hutan mangrove (bakau) dilakukan dalam memperingati Hari Burung Migran Dunia atau Migratory Bird Day yang jatuh pada setiap 10 Mei.

Mufti menjelaskan, pihaknya memilih melakukan pengamatan burung migran di kawasan hutan mangrove Percut Sei Tuan mengingat migrasi burung merupakan indikator kesehatan sebuah ekosistem. Kalau hutannya sehat, burung dari berbagai Negara di dunia akan datang.

Menurutnya, migrasi burung merupakan keajaiban alam. Burung migran terbang ratusan bahkan ribuan kilometer untuk menemukan ekologi dan habitat terbaik untuk makan dan berkembangbiak. Ketika lokasi habitatnya tidak menguntungkan, maka burung akan terbang ke daerah lain yang dianggap lebih baik.

“Kami memilih lokasi di Persut Sei Tuan karena terjadinya degradasi hutan mangrove akibat alih fungsi lahan beberapa tahun terakhir ini. Burung memang masih ada di kawasan hutan mangrove, tetapi jumlah dan jenisnya sudah berkurang. Ini menunjukkan adanya degradasi hutan mangrove. Karena itu alih fungsi hutan mangrove yang sering dijadikan tambak harus dihentikan,” kata Mufti.

Ketua Pantia Poppy RA Lumbantobing menjelaskan, sebelum melakukan pengamatan burung migran di Percut Sei Tuan, panitia terlebih dahulu menggelar diskusi umum bertema “Stop Illegal Killing, Taking and Trade of Migratory Bird” (Setop Perburuan dan Perdagangan Burung Migran) di Convention Hall Kampus I UMA Jalan Kolam Medan Estate.

Diskusi itu menampilkan narasumber Giyanto SSi, peneliti burung migran dari Yayasan Akasia Indonesia (YKI) dan Hasri Abdillah dari Sumatera Rainforest Institute (SRI).

Hasri Abdillah mengungkapkan, pihaknya sudah melakukan penelitian brung sejak 2011. Ternyata ditemukan puluhan spesies burung migran di pesisir Pantai Deliserdang, di antaranya Desa Tanjung Rejo, Percut Sei Tuan. Setelah diidentifikasi, katanya, burung migran itu berasal dari Thailand, China, Hongkong dan Jepang.