seminar-org-utanPopulasi orangutan teran­cam pu­nah. Sebab habitat orangutan di ka­wasan Sumut dan Aceh kini di­ram­bah,  menjadi kebun ke­lapa sawit.

“Ada sekitar 15 ribu  hek­tare ruang hi­dup orangutan di kawasan Taman Na­sional Gunung Leuser (TNGL) dan Kabupaten Langkat habis di­ram­bah mafia tanah. Aki­batnya me­ng­an­cam keber­lan­jutan kon­servasi sat­wa liar di kawasan tersebut,” ung­kap Direktur Yayasan Orangutan Sumatera Lestari/Orangutan Infor­ma­tion Centre (YOSL/OIC),  Panut Ha­disiswoyo,SS MSc  saat mem­ber­ikan kuliah umum di Convention Hall Uni­versitas Medan Area (UMA), Rabu (27/1).

Kuliah umum dihadiri ra­tusan peserta berasal dari ma­hasiswa berbagai univer­sitas dan siswa pencinta alam dari berbagai sekolah di Me­dan.

Lebih lanjut dikatakannya,  popu­lasi orangutan akan terus berkurang ka­rena, alih fungsi lahan hutan terus terj­adi. Banyaknya per­buruan dan per­dagangan  orangutan serta pe­ne­gakan hukum masih lemah terkait ka­sus-kasus pe­rburuan dan per­da­gangan orangutan.

Selain itu katanya, kura­ngnya koor­dinasi antara pe­merintah pusat dan peme­rintah daerah, termasuk pi­hak – pihak terkait dalam pe­na­nganan pe­lestarian orangutan dan penun­ta­san kasus orangutan.

Menurutnya perambahan terus ter­jadi karena tidak ada penegakan dan penuntasan hukum terhadap pe­ram­bahan lahan hutan secara illegal.

Restorasi

Untuk menjamin peles­tarian orangutan Sumatera, pemerintah perlu me­restorasi hutan Aceh dan Sumut. Ka­rena ada sekitar 7.000 orangutan di kawasan itu, 1.400 di antaranya berada di La­ngkat dan Batangtoru.

Kawasan – kawasan itu harus di­selamatkan dengan cara meres­to­rasi eko­sistem. Konversi hutan untuk tana­man industri hanya akan me­ngan­cam keberadaan orangutan.

Panut juga mengatakan banyak ka­sus perambahan hutan, perburuan dan per­da­gangan satwa liar yang me­reka giring ke ranah hukum, tetapi pe­negakan hukum belum berpihak ke­pada penyelamatan popu­lasi satwa liar.

Sejak 2007, YSOL-IOC melaku­kan upaya restorasi di Resor Sei Be­tung, Langkat. Restorasi lahan ter­sebut juga bertujuan untuk me­ngem­­balikan habitat satwa-satwa yang mulai terancam, sehingga berdam­pak ke ke­hidupan manusia.

Dekan Fakultas Biologi UMA, Dr Mufti Sudibyo me­ngatakan, ku­liah umum ini penting menambah wa­wasan mahasiswa. “Kami juga meng­apresiasi beasiswa Peduli Orang­utan yang diberikan YOSL/ OIC kepada mahasiswa,” katanya di­­dam­pingi Kabag Humas UMA, Ir As­mah Indrawati dan Ketua Panitia, Su­priadi Amri.